Baginda Rasulullah SAW Mendorong para Shahabat Rhum untuk Melakukan Dakwah dan Tidak Berpaling Darinya
Dari miswar bin Makhramah rhuma, dia menceritakan “Pada suatu hari Rasulullah saw keluar menemui para shoahabat rhum, lalu bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian umat manusia, oleh karena itu hendaklah kalian menyampaikan apa-apa yang telah kalian dengar dariku—Semoga Alloh merahmati kalian—dan janganlah kalian menentang seperti penentangan kaum Hawariyyin terhadap nabi Isa as. Karena sesungguhnya Isa bin maryam as telah mengajak kaumnya kepada suatu tugas yang sama seperti yang aku tugaskan kepada kalian. Adapun orang yang diutus oleh Isa as ke tempat yang jauh, maka ia merasa keberatan sehingga Isa as mengadukan keberatan mereka itu kepada Alloh Swt. Akhirnya, setiap kaum Hawariyyin diberi tugas oleh Alloh SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Lalu Isa as berkata kepada kaumnya, “Ini adalah tugas yang telah diputuskan oleh Alloh kepada kalian, karena itu laksanakanlah tugas itu.!” Setelah para shohabat rhum mendengar kisah itu , mereka berkata kepada Rasululllah, “Wahai Rasulullah, kami telah mendengar perintahmu dan kami siap melaksanakkannya, utuslah kami kemana pun engkau suka!” Maka rasulullah saw mengutus Abdullah bin hudzafah rhu kepada kisra raja Persia, Salith bin amr rhu kepada Haudzah bin Ali penguasa Yamamah, ‘Alaa bin al Hadhrami rhu kepada Mundzir bin Sawa penguasa Hajar, Amar bin ‘Ash rhu kepada Jaifar dan Abbad dua orang putera Julanda dan keduanya sebagai raja Oman, Dihyah al Kalbi rhu kepada Kaisar Romawi, Syuja bin Wahab al Asadi rhu kepada Mundzir bin Haris bin Abi Syimr al Ghassani, dan Amar bin Umayah ad-Dhamri rhu kepada Raja Najasyi. Para utusan tersebut dapat kembali semuanya ke Madinah sebelum Rasulullah saw wafat, kecuali ‘Alaa bin al Hadhrami rhu, karena ketika Rasulullah saw wafat dia sedang berada di Bahrain (HR thabrani. Menurut al Haitsami, dalam sanad ini terdapat Muhammad bin ismail bin bin ‘ayyasy dan dia adalah dhaif. Demikian disebutkan dalam kitab al Majma’ jilid V halaman 306)
Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari jilid VIII halaman 89, Para perawi hadits tentang sirah nabawiyah menambahkan, bahwa Muhajir bin Ali Umayah rhu diutus kepada Harits bin abdi kulal, Jarir rhu diutus kepada Dzil kala’, Saib rhu diutus kepada Musailamah, dan Hathib bin Abi Balta’ah rhu diutus kepada Muqauqis.
Dakwah Maksud Tujuan Hidup: Hidup dalam Dakwah, Dakwah sampai Mati, Mati dalam Dakwah
Dari Aqil bin abi tholib, ia bercerita. Abu tholib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku! Demi Alloh, seperti yang telah engkau ketahui sendiri bahwaaku selalu membenarkan perkataanmu, karena itu engkau juga harus mengikuti perkataanku, bahwa orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mereka berkata bahwa engkau datang ke Ka’bah dan datang ke majelis mereka, lalu mengatakan begini dan begitu. Dengan perkataanmu itu mereka merasa tersinggung, Oleh karena itu, suapaya dapat kamu pahami, maka tinggalkanlah apa yang kamu lakukan itu. Lalu Rasulullah saw menengadahkan wajahnya ke langit sambil berkata, “Demi Alloh, aku tidak sanggup jika harus meninggalkan pekerjaan yang karenanya aku diutus, melebihi ketidaksanggupan salah seorang diantara kamu untuk membawa kobaran api matahari”. (Hr. Thabrani dan Bukhori)
Menurut riwayat Baihaqi, bahwa Abu tholib berkata kepada Fasulullah Saw, “Wahai keponakanku, orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mengatakan ini dan itu, Karena itu, sekarang sayangilah jiwaku juga jiwamu, dan jangan memberikan kepadaku sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya, begitu juga engkau. Karena itu berhentilah dari berkata-kata kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai!” Mendengar perkataan pamannya ini, Rasulullah saw merasa sedih, karena beliau menganggap bahwa pandangan pamannya mengenai dirinya telah berubah dan dia meninggalkan beliau serta menyerahkannya kepada kaumnya, dan kini dia tidak lagi memberikan semangat kepada beliau.. Melihat keadaan seperti ini maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, apabila matahari diletakkan di tangan kanaku dan bulan di tangan kiriku, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkan pekerjaan itu (dakwah) dan aku akan tetap mengerjakannya sampai Alloh memberikan kemenangan kepadaku atau jiwaku melayang karenanya.” Setelah berkata demikian, Rasulullah saw tidak kuasa lagi menahan air mata dan beliau menangis.
Kisah Abu bakar rhu masuk islam: “Masuk islam; Dakwah; Asbab hidayah bagi 9 orang shohabat rhum”
Dari Aisyah rha, ia berkata, “sejak zaman jahiliyah, Abu bakar adalah kawan Rasulullah saw. Pada suatu hari dia pergi keluar ingin menemui Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Nabi saw, dia berkata, “Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu, engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Alloh Swt dan aku mengajak kamu kepada Alloh.” Setelah Nabi selesai berbicara, Abu bakar pun langsung masuk islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorang pun yang ada diantara dua gunung di mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu bakar menemui Utsman bin affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqosh untuk mengajak mereka masuk islam, lalu mereka pun masuk islam. Hari berikutnya Abu bakar rhu menemui Utsman bin mazh’un, Abu ubaidah bin jarrah, Abdurrahman bin Auf, Abu salamah bin Abdul Asad, dan Arqom bin Abil Arqom juga untuk mengajak mereka semua untuk masuk islam, dan mereka pun semua masuk islam (Hr Hafizh Abu Hasan Al Athrabulusi seperti disebutkan dalam al Bidayah, Jilid III halaman 29)
Jepang tahun 1950an: “Sesungguhnya diantara mereka yang memeluk Islam, banyak diantara mereka menyerupai shahabat rhum.”
Kaum muslimin Jepang mengadakan pertemuan, diantara yang hadir ialah Umar Mita, Shadiq Imazumy, Abdul Munir Watonaba, Umar Yokaya, Umar Yamaoka, Musthafa Kamura, dll. Mereka membentuk Asosiasi Muslim pertama di Jepang pada tahun 1953.
Pada masa ini, muncul Jemaah da’wah dan tabligh yang datang dari Pakistan antara tahun 1956 s.d 1960, (diantara mereka ada yang menetap, namun ada juga yang bekerja) Meraka telah mengunjungi Jepang sebanyak empat kali. Saya menemani mereka dalam kunjungannya yang ke-empat pada tahun 1960. Mereka telah membangkitkan semangat warga muslim yang lama dengan semangat dakwah (Umar Mita dan Musthafa Kamura).
Banyak orang-orang baru yang masuk Islam, diantaranya ialah Abdul Karim Saito, Khalid Keba, Dr. Umar Kawabata, Zakariya Nakayama, Ali Mauri, Amin Yamamoto (dan empat orang yang lain yang merupakan para da’i besar di pulau Sakoko, pulau ke-empat di Jepang dan mereka termasuk pengikut Khalid Kiba). Di masa ini, banyak orang yang memeluk agama Islam dengan perantaraan Shadiq Imazumi di bulan ramadhan, diantaranya ialah: Isuzaki, Zubair Suzuki, Shadik Nakayama dan Yusuf Imori.
Pada masa ini, muncul seorang tokoh dakwah yang bernama Abdurrasyid Arsyad, dia adalah seorang Insinyur Pakistan dari Jemaah dakwah dan tabligh. Beliau hafal al-Quran dan pernah mengunjungi Jepang sebagai utusan untuk mengajar dengan biaya dari pemerintahan Jepang pada tahun 1959. Banyak sekali orang yang masuk Islam dengan perantaraannya, diantaranya ialah: Khalid Kiba, beliaulah yang mendorong penulis buku ini untuk datang ke Jepang.
Saya mengenal beliau setelah diperkenalkan Sayyid Abu al-Hasan al-Nadwy dan menemuinya dalam kunjungan Saya ke Pakistan, untuk mengajar ilmu pertanian di Lyallpur, ‘Faisalabad’. Setelah Abdurrasyid kembali ke Jepang, Saya bertemu beliau di Royun dekat kota Lahore pada bulan November 1959 dalam perkumpulan Jemaah tabligh tahunan. Beliau mendorong Saya untuk pergi ke Jepang dengan berkata: “Jepang itu bagaikan taman yang berbunga, penuh dengan buah-buahan yang matang. Kamu dapat masuk ke dalamnya dan mengumpulkan buahnya dengan mudah. Sesungguhnya diantara mereka yang memeluk Islam, banyak diantara mereka menyerupai sahabat”.
Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma Boleh Menggunakannya*
Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?
Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)
Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).
Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.
Dengan demikian, menurut kelompok ini, klaim An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama gugur, karena beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail, seperti yang disebutkan Al Qasimi.
Bagaimana duduk masalah sebenarnya? Tepatkah pendapat Al Qasimi tersebut, bahwa Imam Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi sepeti yang beliau katakan, yakni menolak hadits dhaif dalam Al Fadhail? Inilah tujuan penulisan artikel ini.
Imam Al Bukhari
Beberapa ulama menyebutkan bahwa penyandaraan pendapat yang menolak hadits dhaif untuk fadhail terhadap Imam Bukhari adalah kurang tepat, karena beliau juga menjadikan hadits dhaif untuk hujjah. Ini bisa dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara hadits shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan hadits itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini bisa dilihat dari judul bab yang beliau tulis.
Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, telah menulis masalah ini dalam komentar beliau terhadap kitab Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi (hal. 182-186), dengan merujuk kitab Fadhullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad, karya Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi Al Hindi, ulama hadits dari India yang wafat pada tahun1399 H.
Memanfaatkan Usaha dakwah dan tabligh untuk Memerangi Teroris (Sebuah Pelajaran dari Qatar)
05 Maret 2005 sebuah bom meledak di depan British International School di area City Center Doha Qatar. Seperti biasa, polisi bergerak cepat mengidentifikasi pelaku. Hasilnya, siapa pelaku dan gerombolannya akhirnya tertangkap.
Tentu ada yang berbeda dalam penanganan teroris di Qatar dan Indonesia. Kalau Polisi Qatar mengekor Polisi Indonesia dalam mengidentifikasi seperti apa “teroris”, tentu akan sangat kesulitan. Separuh penduduk Qatar, sehari-hari selalu bersorban dan tentunya berjanggut panjang. Para Wanitanya juga banyak yang bercadar. Lha apa semua harus dicurigai seperti statemen Pangdam Diponegoro.
Polisi Indonesia bukanlah semacam keledai yang selalu jatuh dilubang yang sama. Setiap ada kejadian bom, steoreotip yang kemudian muncul adalah, bahwa teroris itu bersorban, berjanggut dan berjubah. Stereotip semacam itu saya yakin bukan dari aparat kepolisian, tapi lebih dari media terutama televisi.
Saya yakin, Pangdam Diponegoro pasti tidak hadir dan tidak melihat siaran berita televise ketika Kapolri Bambang Hendarso Danuri menunjukkan foto-foto para pelaku teror. Adakah diantara foto-foto yang dipaparkan Kapolri menunjukkan seorang yang bersurban, berjanggut bahkan berjubah. Ketika Imam Samudra, Ali Muklas dan Amrozi ditangkap dulu, adakah diantara mereka yang bersurban dan berjubah?.
Bukankah ketika ditangkap Imam Samudra sangat macho dengan kaos CONVERSE. Wah seharusnya orang berkaos CONVERSE-lah yang kudu diwaspadai. Iya to?
Kembali ke Qatar
Pasca bom di City Center, Qatar sangat cerdik dalam memerangi teroris. Dan hasilnya, adalah tidak terulangnya lagi bom-bom meledak di Qatar. Padahal Qatar adalah target utama para militan di Bumi Arab, karena di Qatar lah pusat komando dan pangkalan militer Amerika terbesar di timur tengah.
Pakistan, Pusat Studi Hadits
Mendengar nama Pakistan, mungkin langsung tergambar dalam pikiran kita satu negara yang dipenuhi pasukan perang, pertikaian, kekerasan, kemiskinan, dan imej-imej mengerikan lainnya. Atau mungkin juga sebaliknya. Tergambar orang-orang berkaliber internasional semacam Muhammad Iqbal, DR. Fazlur Rahman, DR. Ziauddin Sardar, Maududi, ataupun Prof. Abdus Salam. Dalam edisi ini, A.Harun Al Rosyid salah seorang anggota redaksi Kakilangit menceritakan pengalamannya belajar di Pakistan.
Menghirup Udara Pakistan
Setelah mendapatkan berbagai masukan tentang pengkajian hadits di beberapa tempat, akhirnya saya putuskan untuk mendalami hadits di India. Sebab, sebagaimana kata seorang ustadz dari Malang, alumni Sayyid Muhammad Makkah, untuk saat ini India-lah tempat pengkajian hadits paling pesat, tepatnya di Deoband. Bahkan Sayyid Muhammad pun dulu pernah belajar di sana. Hanya saja, mendapatkan visa India bukanlah hal yang mudah. Maka beliau sarankan untuk pergi ke Pakistan terlebih dahulu, sebab perolehan visanya relatif lebih mudah daripada India. Dari sana, mungkin bisa minta bantuan ulama yang pernah belajar di India. Beliau juga memberikan informasi bahwa di Pakistan ada seorang ulama besar alumni Deoband bernama Syaikh Binnuri. Hanya sayangnya, tidak diketahui di Pakistan bagian mana beliau tinggal. Dari petunjuk singkat ini, saya berusaha mencari info tentang orang yang bisa mencarikan jalur mudah ke Pakistan. Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya saya bertemu dengan Rusydan, seorang pelajar asal Magetan yang sudah beberapa tahun belajar di Pakistan. Saat itu, ia pulang liburan Ramadlan. Maka, pada bulan Pebruari 1997, kami berdua terbang menuju Karachi Pakistan.
Setelah enam jam di atas pesawat, kami pun menginjakkan kaki di Qa’id A’zam International Air Port. Saat itu sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Dinginnya udara sisa-sisa musim dingin masih terasa menusuk tulang sumsum. Pakistan memang termasuk negara yang memiliki empat musim. Pada musim dingin, di Pakistan utara (propinsi Sarhad) biasa diselimuti salju tebal. Sedangkan bagian selatan (propinsi Sindh dan sebagian Balochistan) adalah wilayah yang penuh dengan gurun pasir tandus dan gunung-gunung batu.Lahan pertanian dan perkebunan kebanyakan hanya didapati di Punjab dan sebagian Balochistan. Namun gandum, padi dan buah-buahan selalu melimpah. Beras pernah diekspor ke Indonesia. Sedangkan buah-buahan secara mencolok muncul bergiliran seiring dengan pergantian musim. Anggur hijau, pir, kurma dan tin pun menjadi makanan biasa di sana.
Sopir Hafal Al Quran
Temanku memangil taksi untuk mengantarkan kami ke sebuah jami’ah di daerah New Town. Ada beberapa pelajar Indonesia di sana. Selama perjalanan, Rusydan ngobrol dengan sopir dengan bahasa Urdu yang satu kata pun tidak aku mengerti. “Eh! Sopirnya ternyata hafizh Qur-an,” kata temanku. Ah, mana mungkin, pikirku. “Kamu nggak percaya, ya? ” tanyanya memahami ketidakyakinanku. “Di Pakistan sini, orang hafal Qur-an bukan sesuatu yang aneh. Sopir hafizh, dokter hafizh, insinyur hafzh, pedagang hafizh, bahkan pemain olah raga pun ada yang hafizh. Nanti kalau kamu sudah tingal di sini, kamu akan tahu semua,” katanya meyakinkan.
Kitab-kitab Rujukan Kitab Hayatush Shohabah Maulana Yusuf rah
مصادر كتاب حياه الصحابة عيون كتب السنة المطهرة
فلو اطلع على مصادر الكتاب البعض من العلماء لما طعنوا فيه وزلت أقلامهم وإقدامهم فيه، لان الزلة اصابت مصادر السنة وليس كتاب حياه الصحابة فحسب
اسم الكتاب/المصنف
1. القرآن المجيد
2. تفسير القرآن—- إسماعيل بن عمر بن كثير
3. الدر المأثور في التفسير بالمأثور– عبد الرحمن بن ابي بكر الخظيري السيوطي جلال الدين
4. تفسير الطبري— محمد بن جرير ابو جعفر الطبري
5. الجامع الصحيح– محمد بن إسماعيل البخاري
6. التاريخ الكبير—- محمد بن إسماعيل البخاري
7. الأدب المفرد—- محمد بن إسماعيل البخاري
8. كتاب الضعفاء—- محمد بن إسماعيل البخاري
9. عمدة القاري في شرح البخاري—- محمود بن احمد بن موسى بدر الدين العيني
10. الجامع الصحيح ،للإمام مسلم— مسلم بن حجاج بن مسلم النيسابوري ابي الحسين
11. الجماع الكبير، للترمذي— محمد بن عيسى بن سورة ابي عيسى الترمذي
12. الشمائل النبوية—- محمد بن عيسى بن سورة ابي عيسى الترمذي
13. سنن ابن ماجة—- محمد بن يزيد الربعي القزويني بن ماجة
14. المسند الصحيح ،لابن حبان— يقال انه اصح من ابن ماجة، محمد بن حبان بن احمد بن حبان ولد في بست من بلاد سجستان
15. المسند— لأحمد بن حنبل
16. الزهد—– لأحمد بن حنبل
17. فضائل الصحابة– لأحمد بن حنبل
18. سنن المجتبى—– احمد بن علي النسائي
19. السنن الكبرى —– احمد بن حسين البيهقي
20. السنن الصغرى—– احمد بن حسين البيهقي
21. دلائل النبوة—– احمد بن حسين البيهقي
22. الجامع المصنف في شعب الإيمان— احمد بن حسين البيهقي
23. البعث والنشور—- احمد بن حسين البيهقي
24. البداية والنهاية— إسماعيل بن عمر بن كثير
25. الآحاد والمثاني— احمد بن عمر الضحاك (ابن النبيل)
26. المسند———— احمد بن موسى ( بن مردوية)
27. الفوائد المنتخبة—— احمد بن علي الخطيب البغدادي
28. المسند————— احمد بن علي بن مثنى (أبي يعلى)
29. المختصر في التاريخ— احمد بن داود الدينوري
30. الإصابة في تمييز أسماء الصحابة–احمد بن علي بن حجر
31. لسان الميزان- احمد بن علي بن حجر العسقلاني
32. فتح الباري شرح صحيح البخاري– احمد بن علي بن حجر
33. شرح معاني الآثار– احمد بن محمد بن سلمه الطحاوي
34. التاريخ الكبير– احمد بن زهير بن خيثمة
35. حلية الأولياء وطبقة الأصفياء– احمد بن عبد الله بن نعيم
36. معرفة الصحابة– احمد بن عبد الله بن نعيم الاصبهاني
37. دلائل النبوة—– احمد بن عبد الله بن نعيم الاصبهاني
38. فضائل الإعمال– احمد بن محمد بن إسحاق الدينوري المشهور بابن السني من تلامذة الإمام الشافعي
39. عمل اليوم والليلة– لابن السني
40 Read more »
Thesis tentang Kitab Fadhoil Amal (Bab Sholat)
Kitab ini telah dikarang oleh al-Syeikh Maulana Muhammad Zakariya merupakan seorang ulama hadith yang ulung. Kitab ini mengandungi lebih daripada 40 buah hadith yang terdiri pelbagai darjat dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain dari segi makna, maksud dan martabatnya.
Tambahan daripada itu, kitab ini mengandungi kelebihan-kelebihan solat, ancaman serta peringatan akan azab bila mana seseorang muslim meninggalkannya, keutamaan solat berjemaah serta ancaman meninggalkan solat berjemaah, kisah-kisah orang soleh mencapai hakikat khusu’ dalam solat dan tatatertib dan cara yang dapat mencapai hakikat solat yang dicadangkan oleh para ulama. Kitab ini ditulis atas permintaan al-Syeikh Maulana Muhammad Ilyas rah. Dan penulisannya selesai pada 7 Muharram 1358 H/ 1939 M.
Kitab ini mengandungi 87 halaman dan telah diterjemah ke dalam berbagai bahasa seantero dunia yang di antaranya ialah Bahasa Arab dengan tajuk Makān al-Solah fī al-Islām wa Ahammiyatuhā fī Hayah al-Muslim oleh Maulana Muhammad Hassan al-Nadwī. Bahasa Burma oleh Maulana Muhammad Musa, Bahasa Inggeris oleh Abd al-Rasyid Arsyad, Bahasa Madrasi oleh BA Khalil al-Rahman, Bahasa Benggali oleh Maulana Abd al-Majid, Bahasa Talgha oleh Syed Nurullah Qdiri, Bahasa Malyam oleh Mulwi Muhammad Abd al-Qadir, Bahasa Tamil oleh Khalil al-Rahman, Bahasa Perancis oleh Maulana Ahmad Said, Bahasa Gujrat oleh Munshi Isa Ibrahim, Bahasa Parsi oleh Maulana Asyraf MA, Bahasa Malaysia oleh Haji Yacqub, Bahasa Sahili (Afrika) oleh al-Syeikh Miqdad Yusuf, Bahasa Pushto oleh Haji Muhammad Abd Khaliq dan lain-lain bahasa yang wujud di dunia ini.
4.1.1 Hadith 1
عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان))
Maulana Zakariya telah menyatakan bahawa hadith ini telah dikeluarkan oleh al-Bukharī, Muslim dan selain daripada keduanya. Mengikut kajian yang telah dibuat oleh penulis hadith ini telah diriwayatkan oleh
1. al-Bukhārī, Sahīh al-Bukhārī, kitab al-imān, bāb ducāukum imānukum, juz 1, hlmn 8, bilgn 117.
2. Muslim, Sahīh Muslim, kitab al-solah, bab bayān arkān al-islām wa dacāemih al-czam, juz 1, hlmn 19, bilgn 187.
3. al-Tirmizī, Sunan al-Tirmizī, kitab al-solah, bab mā jāa buniya al-islām calā khams, juz 1, hlmn 190, bilgn 2534, hukumnya hasan sahīh[1] Hadith ini diriwayatkan dengan pelbagai jalan periwayatan daripada Ibn cUmar, seorang perawi dalam hadith ini bernama Sucair bin al-Khims dihukum thiqah.
4. al-Nasāei, Sunan al-Nasaei, kitab al-imān wa syaracihi, bab cala kam buniya al-Islam, jilid 1, hlmn 443, bilgn 5016. Hadith ini muttafaq calaihi.
5. Ahmad, Musnad Ahmad, hadith cAbdullah bin cUmar bin al-Khattab, bilg 4798.
6. Ibnu Khuzaimah, Sahīh Ibnu Khuzaimah, bab al-zikr al-dalil cala an iqāmah al-solāt min al-islām juz 1, bilgn 308-309 dan bāb zikr al-bayān an saum syahr Ramadān min al-Islām bilgn 1880.
7. Ibn Hibān, Sahīh Ibn Hibān, bab al-bayān bi an al-imān wa al-islām li macnā wāhid, juz 1, hlmn 374, bilgn 157. Isnad hadith ini dihukm sahih dengan syarat al-Bukharī dan Muslim. Read more »
Shaykh Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki’s Letter To Shaykh al-Hadith Mawlana Muhammad Zakariyya
Below is a letter in the handwriting of the Hijazi scholar Shaykh Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki (may Allah shower His mercy upon him), addressed to Shaykh al-Hadith Mawlana Muhammad Zakariyya (may Allah shower His mercy upon him). It was written after Shaykh al-Hadith had gifted the Shaykh a copy of Mawlana Khalil Ahmad Saharanpuri’s (may Allah anctify his secret) Badhl al-Majhud, commentary of Sunan Abi Dawud. This particular edition, published in 20 volumes, was the first of many al-Maktabah al-Imdadiyyah (Makkah) prints and included Shaykh al-Hadith’s beneficial ta’liqat (annotations). Shaykh al-Hadith gifted the work to various notable ‘ulama’ of al-Haramayn.
Shaykh ‘Alawi al-Maliki’s letter to Shaykh al-Hadith Mawlana Muhammad Zakariyya
Shaykh Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki’s letter to Shaykh al-Hadith Mawlana Muhammad Zakariyya
Translation:
In the name of Allah, most Beneficent, most Merciful,
Possessor of Excellence, the learned hadith scholar, remnant of the predecessors and splendour of the successors, the embodiment of blessings, Imam, caller to Allah, my master and my teacher: Shaykh Muhammad Zakariyya, may Allah protect him …
Al-Salam ‘alaykum wa Rahmat Allah
I congratulate you on the arrival of the New Year. May Allah make it one of prosperity, blessings, happiness and favour. Amin.
I thank you for kindly sending to me a copy of the great, renowned and praiseworthy commentary, Badhl al-Majhud, which is crowned with your blessed annotations. May Allah protect, aid and assist you, and may He lengthen your life in His obedience and the excellence of His servitude, and may He enable us to benefit from you. May you always remain [in prosperity].
Your lover and humble servant,
Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki
Servant of the honourable students at the [Umm al-Qura] University and al-Masjid al-Haram
04/01/1394 (AH)
Image taken from: Fihrist Ta’lifat-e-Shaykh, Volume 1, p. 346 (Saharanpur: Maktabah Yadgar-e-Shaykh, Ramadhan 1417 AH / January 1997 CE ed. ) by Mawlana Sayyid Muhammad Shahid Saharanpuri.
Apabila ingin melihat manuscript dari letter/surat tersebut, silahkan untuk membuka di sourse aslinya..
Sumber: http://zakariyya.wordpress.com/2009/07/28/shaykh-muhammad-ibn-alawi-al-malikis-letter-to-shaykh-al-hadith-mawlana-muhammad-zakariyya/
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment