Archive for November, 2009|Monthly archive page

Baginda Rasulullah SAW Mendorong para Shahabat Rhum untuk Melakukan Dakwah dan Tidak Berpaling Darinya

Dari miswar bin Makhramah rhuma, dia menceritakan “Pada suatu hari Rasulullah saw keluar menemui para shoahabat rhum, lalu bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian umat manusia, oleh karena itu hendaklah kalian menyampaikan apa-apa yang telah kalian dengar dariku—Semoga Alloh merahmati kalian—dan janganlah kalian menentang seperti penentangan kaum Hawariyyin terhadap nabi Isa as. Karena sesungguhnya Isa bin maryam as telah mengajak kaumnya kepada suatu tugas yang sama seperti yang aku tugaskan kepada kalian. Adapun orang yang diutus oleh Isa as ke tempat yang jauh, maka ia merasa keberatan sehingga Isa as mengadukan keberatan mereka itu kepada Alloh Swt. Akhirnya, setiap kaum Hawariyyin diberi tugas oleh Alloh SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Lalu Isa as berkata kepada kaumnya, “Ini adalah tugas yang telah diputuskan oleh Alloh kepada kalian, karena itu laksanakanlah tugas itu.!” Setelah para shohabat rhum mendengar kisah itu , mereka berkata kepada Rasululllah, “Wahai Rasulullah, kami telah mendengar perintahmu dan kami siap melaksanakkannya, utuslah kami kemana pun engkau suka!” Maka rasulullah saw mengutus Abdullah bin hudzafah rhu kepada kisra raja Persia, Salith bin amr rhu kepada Haudzah bin Ali penguasa Yamamah, ‘Alaa bin al Hadhrami rhu kepada Mundzir bin Sawa penguasa Hajar, Amar bin ‘Ash rhu kepada Jaifar dan Abbad dua orang putera Julanda dan keduanya sebagai raja Oman, Dihyah al Kalbi rhu kepada Kaisar Romawi, Syuja bin Wahab al Asadi rhu kepada Mundzir bin Haris bin Abi Syimr al Ghassani, dan Amar bin Umayah ad-Dhamri rhu kepada Raja Najasyi. Para utusan tersebut dapat kembali semuanya ke Madinah sebelum Rasulullah saw wafat, kecuali ‘Alaa bin al Hadhrami rhu, karena ketika Rasulullah saw wafat dia sedang berada di Bahrain (HR thabrani. Menurut al Haitsami, dalam sanad ini terdapat Muhammad bin ismail bin bin ‘ayyasy dan dia adalah dhaif. Demikian disebutkan dalam kitab al Majma’ jilid V halaman 306)

Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari jilid VIII halaman 89, Para perawi hadits tentang sirah nabawiyah menambahkan, bahwa Muhajir bin Ali Umayah rhu diutus kepada Harits bin abdi kulal, Jarir rhu diutus kepada Dzil kala’, Saib rhu diutus kepada Musailamah, dan Hathib bin Abi Balta’ah rhu diutus kepada Muqauqis.

Advertisements

Dakwah Maksud Tujuan Hidup: Hidup dalam Dakwah, Dakwah sampai Mati, Mati dalam Dakwah

Dari Aqil bin abi tholib, ia bercerita. Abu tholib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku! Demi Alloh, seperti yang telah engkau ketahui sendiri bahwaaku selalu membenarkan perkataanmu, karena itu engkau juga harus mengikuti perkataanku, bahwa orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mereka berkata bahwa engkau datang ke Ka’bah dan datang ke majelis mereka, lalu mengatakan begini dan begitu. Dengan perkataanmu itu mereka merasa tersinggung, Oleh karena itu, suapaya dapat kamu pahami, maka tinggalkanlah apa yang kamu lakukan itu. Lalu Rasulullah saw menengadahkan wajahnya ke langit sambil berkata, “Demi Alloh, aku tidak sanggup jika harus meninggalkan pekerjaan yang karenanya aku diutus, melebihi ketidaksanggupan salah seorang diantara kamu untuk membawa kobaran api matahari”. (Hr. Thabrani dan Bukhori)

Menurut riwayat Baihaqi, bahwa Abu tholib berkata kepada Fasulullah Saw, “Wahai keponakanku, orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mengatakan ini dan itu, Karena itu, sekarang sayangilah jiwaku juga jiwamu, dan jangan memberikan kepadaku sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya, begitu juga engkau. Karena itu berhentilah dari berkata-kata kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai!” Mendengar perkataan pamannya ini, Rasulullah saw merasa sedih, karena beliau menganggap bahwa pandangan pamannya mengenai dirinya telah berubah dan dia meninggalkan beliau serta menyerahkannya kepada kaumnya, dan kini dia tidak lagi memberikan semangat kepada beliau.. Melihat keadaan seperti ini maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, apabila matahari diletakkan di tangan kanaku dan bulan di tangan kiriku, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkan pekerjaan itu (dakwah) dan aku akan tetap mengerjakannya sampai Alloh memberikan kemenangan kepadaku atau jiwaku melayang karenanya.” Setelah berkata demikian, Rasulullah saw tidak kuasa lagi menahan air mata dan beliau menangis.

Kisah Abu bakar rhu masuk islam: “Masuk islam; Dakwah; Asbab hidayah bagi 9 orang shohabat rhum”

Dari Aisyah rha, ia berkata, “sejak zaman jahiliyah, Abu bakar adalah kawan Rasulullah saw. Pada suatu hari dia pergi keluar ingin menemui Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Nabi saw, dia berkata, “Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu, engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Alloh Swt dan aku mengajak kamu kepada Alloh.” Setelah Nabi selesai berbicara, Abu bakar pun langsung masuk islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorang pun yang ada diantara dua gunung di mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu bakar menemui Utsman bin affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqosh untuk mengajak mereka masuk islam, lalu mereka pun masuk islam. Hari berikutnya Abu bakar rhu menemui Utsman bin mazh’un, Abu ubaidah bin jarrah, Abdurrahman bin Auf, Abu salamah bin Abdul Asad, dan Arqom bin Abil Arqom juga untuk mengajak mereka semua untuk masuk islam, dan mereka pun semua masuk islam (Hr Hafizh Abu Hasan Al Athrabulusi seperti disebutkan dalam al Bidayah, Jilid III halaman 29)

Jepang tahun 1950an: “Sesungguhnya diantara mereka yang memeluk Islam, banyak diantara mereka menyerupai shahabat rhum.”

Kaum muslimin Jepang mengadakan pertemuan, diantara yang hadir ialah Umar Mita, Shadiq Imazumy, Abdul Munir Watonaba, Umar Yokaya, Umar Yamaoka, Musthafa Kamura, dll. Mereka membentuk Asosiasi Muslim pertama di Jepang pada tahun 1953.

Pada masa ini, muncul Jemaah da’wah dan tabligh yang datang dari Pakistan antara tahun 1956 s.d 1960, (diantara mereka ada yang menetap, namun ada juga yang bekerja) Meraka telah mengunjungi Jepang sebanyak empat kali. Saya menemani mereka dalam kunjungannya yang ke-empat pada tahun 1960. Mereka telah membangkitkan semangat warga muslim yang lama dengan semangat dakwah (Umar Mita dan Musthafa Kamura).

Banyak orang-orang baru yang masuk Islam, diantaranya ialah Abdul Karim Saito, Khalid Keba, Dr. Umar Kawabata, Zakariya Nakayama, Ali Mauri, Amin Yamamoto (dan empat orang yang lain yang merupakan para da’i besar di pulau Sakoko, pulau ke-empat di Jepang dan mereka termasuk pengikut Khalid Kiba). Di masa ini, banyak orang yang memeluk agama Islam dengan perantaraan Shadiq Imazumi di bulan ramadhan, diantaranya ialah: Isuzaki, Zubair Suzuki, Shadik Nakayama dan Yusuf Imori.

Pada masa ini, muncul seorang tokoh dakwah yang bernama Abdurrasyid Arsyad, dia adalah seorang Insinyur Pakistan dari Jemaah dakwah dan tabligh. Beliau hafal al-Quran dan pernah mengunjungi Jepang sebagai utusan untuk mengajar dengan biaya dari pemerintahan Jepang pada tahun 1959. Banyak sekali orang yang masuk Islam dengan perantaraannya, diantaranya ialah: Khalid Kiba, beliaulah yang mendorong penulis buku ini untuk datang ke Jepang.

Saya mengenal beliau setelah diperkenalkan Sayyid Abu al-Hasan al-Nadwy dan menemuinya dalam kunjungan Saya ke Pakistan, untuk mengajar ilmu pertanian di Lyallpur, ‘Faisalabad’. Setelah Abdurrasyid kembali ke Jepang, Saya bertemu beliau di Royun dekat kota Lahore pada bulan November 1959 dalam perkumpulan Jemaah tabligh tahunan. Beliau mendorong Saya untuk pergi ke Jepang dengan berkata: “Jepang itu bagaikan taman yang berbunga, penuh dengan buah-buahan yang matang. Kamu dapat masuk ke dalamnya dan mengumpulkan buahnya dengan mudah. Sesungguhnya diantara mereka yang memeluk Islam, banyak diantara mereka menyerupai sahabat”.

Continue reading

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma Boleh Menggunakannya*

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah?

Sebagaimana diketahui, pernyataan adanya ijma’ ulama, mengenai pembolehan dan pensunahan pengamalan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah, disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, mengenai adanya ijma’ bolehnya pemakaian hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113), dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.

Dengan demikian, menurut kelompok ini, klaim An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama gugur, karena beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail, seperti yang disebutkan Al Qasimi.

Bagaimana duduk masalah sebenarnya? Tepatkah pendapat Al Qasimi tersebut, bahwa Imam Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi sepeti yang beliau katakan, yakni menolak hadits dhaif dalam Al Fadhail? Inilah tujuan penulisan artikel ini.

Imam Al Bukhari

Beberapa ulama menyebutkan bahwa penyandaraan pendapat yang menolak hadits dhaif untuk fadhail terhadap Imam Bukhari adalah kurang tepat, karena beliau juga menjadikan hadits dhaif untuk hujjah. Ini bisa dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara hadits shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan hadits itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini bisa dilihat dari judul bab yang beliau tulis.

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, telah menulis masalah ini dalam komentar beliau terhadap kitab Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi (hal. 182-186), dengan merujuk kitab Fadhullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad, karya Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi Al Hindi, ulama hadits dari India yang wafat pada tahun1399 H.

Continue reading