Archive for the ‘Gerimis Kisah-kisah Shohabat’ Category

Baginda Rasulullah SAW Mendorong para Shahabat Rhum untuk Melakukan Dakwah dan Tidak Berpaling Darinya

Dari miswar bin Makhramah rhuma, dia menceritakan “Pada suatu hari Rasulullah saw keluar menemui para shoahabat rhum, lalu bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian umat manusia, oleh karena itu hendaklah kalian menyampaikan apa-apa yang telah kalian dengar dariku—Semoga Alloh merahmati kalian—dan janganlah kalian menentang seperti penentangan kaum Hawariyyin terhadap nabi Isa as. Karena sesungguhnya Isa bin maryam as telah mengajak kaumnya kepada suatu tugas yang sama seperti yang aku tugaskan kepada kalian. Adapun orang yang diutus oleh Isa as ke tempat yang jauh, maka ia merasa keberatan sehingga Isa as mengadukan keberatan mereka itu kepada Alloh Swt. Akhirnya, setiap kaum Hawariyyin diberi tugas oleh Alloh SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Lalu Isa as berkata kepada kaumnya, “Ini adalah tugas yang telah diputuskan oleh Alloh kepada kalian, karena itu laksanakanlah tugas itu.!” Setelah para shohabat rhum mendengar kisah itu , mereka berkata kepada Rasululllah, “Wahai Rasulullah, kami telah mendengar perintahmu dan kami siap melaksanakkannya, utuslah kami kemana pun engkau suka!” Maka rasulullah saw mengutus Abdullah bin hudzafah rhu kepada kisra raja Persia, Salith bin amr rhu kepada Haudzah bin Ali penguasa Yamamah, ‘Alaa bin al Hadhrami rhu kepada Mundzir bin Sawa penguasa Hajar, Amar bin ‘Ash rhu kepada Jaifar dan Abbad dua orang putera Julanda dan keduanya sebagai raja Oman, Dihyah al Kalbi rhu kepada Kaisar Romawi, Syuja bin Wahab al Asadi rhu kepada Mundzir bin Haris bin Abi Syimr al Ghassani, dan Amar bin Umayah ad-Dhamri rhu kepada Raja Najasyi. Para utusan tersebut dapat kembali semuanya ke Madinah sebelum Rasulullah saw wafat, kecuali ‘Alaa bin al Hadhrami rhu, karena ketika Rasulullah saw wafat dia sedang berada di Bahrain (HR thabrani. Menurut al Haitsami, dalam sanad ini terdapat Muhammad bin ismail bin bin ‘ayyasy dan dia adalah dhaif. Demikian disebutkan dalam kitab al Majma’ jilid V halaman 306)

Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari jilid VIII halaman 89, Para perawi hadits tentang sirah nabawiyah menambahkan, bahwa Muhajir bin Ali Umayah rhu diutus kepada Harits bin abdi kulal, Jarir rhu diutus kepada Dzil kala’, Saib rhu diutus kepada Musailamah, dan Hathib bin Abi Balta’ah rhu diutus kepada Muqauqis.

Advertisements

Dakwah Maksud Tujuan Hidup: Hidup dalam Dakwah, Dakwah sampai Mati, Mati dalam Dakwah

Dari Aqil bin abi tholib, ia bercerita. Abu tholib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku! Demi Alloh, seperti yang telah engkau ketahui sendiri bahwaaku selalu membenarkan perkataanmu, karena itu engkau juga harus mengikuti perkataanku, bahwa orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mereka berkata bahwa engkau datang ke Ka’bah dan datang ke majelis mereka, lalu mengatakan begini dan begitu. Dengan perkataanmu itu mereka merasa tersinggung, Oleh karena itu, suapaya dapat kamu pahami, maka tinggalkanlah apa yang kamu lakukan itu. Lalu Rasulullah saw menengadahkan wajahnya ke langit sambil berkata, “Demi Alloh, aku tidak sanggup jika harus meninggalkan pekerjaan yang karenanya aku diutus, melebihi ketidaksanggupan salah seorang diantara kamu untuk membawa kobaran api matahari”. (Hr. Thabrani dan Bukhori)

Menurut riwayat Baihaqi, bahwa Abu tholib berkata kepada Fasulullah Saw, “Wahai keponakanku, orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mengatakan ini dan itu, Karena itu, sekarang sayangilah jiwaku juga jiwamu, dan jangan memberikan kepadaku sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya, begitu juga engkau. Karena itu berhentilah dari berkata-kata kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai!” Mendengar perkataan pamannya ini, Rasulullah saw merasa sedih, karena beliau menganggap bahwa pandangan pamannya mengenai dirinya telah berubah dan dia meninggalkan beliau serta menyerahkannya kepada kaumnya, dan kini dia tidak lagi memberikan semangat kepada beliau.. Melihat keadaan seperti ini maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, apabila matahari diletakkan di tangan kanaku dan bulan di tangan kiriku, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkan pekerjaan itu (dakwah) dan aku akan tetap mengerjakannya sampai Alloh memberikan kemenangan kepadaku atau jiwaku melayang karenanya.” Setelah berkata demikian, Rasulullah saw tidak kuasa lagi menahan air mata dan beliau menangis.

Kisah Abu bakar rhu masuk islam: “Masuk islam; Dakwah; Asbab hidayah bagi 9 orang shohabat rhum”

Dari Aisyah rha, ia berkata, “sejak zaman jahiliyah, Abu bakar adalah kawan Rasulullah saw. Pada suatu hari dia pergi keluar ingin menemui Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Nabi saw, dia berkata, “Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu, engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Alloh Swt dan aku mengajak kamu kepada Alloh.” Setelah Nabi selesai berbicara, Abu bakar pun langsung masuk islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorang pun yang ada diantara dua gunung di mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu bakar menemui Utsman bin affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqosh untuk mengajak mereka masuk islam, lalu mereka pun masuk islam. Hari berikutnya Abu bakar rhu menemui Utsman bin mazh’un, Abu ubaidah bin jarrah, Abdurrahman bin Auf, Abu salamah bin Abdul Asad, dan Arqom bin Abil Arqom juga untuk mengajak mereka semua untuk masuk islam, dan mereka pun semua masuk islam (Hr Hafizh Abu Hasan Al Athrabulusi seperti disebutkan dalam al Bidayah, Jilid III halaman 29)

Taat kepada perintah amir ketika berdakwah di jalan Alloh

Abu malik al asy’ari rhu berkata, Rasulullah saw mengirimkan kami dalam sebuah pasukan, dan saad bin abi waqqas ditunjuk sebagai pemimpin kami, maka kamipun berangkat. Ketika kami berhenti di suatu tenopat untuk beristirahat, ada salah seorang seorang dari kami berdiri lalu menunggangi kendaraannya. Saya bertanya kepadanya, “Hendak pergi kemana Kamu?” Dia menjawab, saya akan pergi mencari rumput.” Saya katakan kepadanya, “Janganlah berbuat demikian sebelum kamu meminta ijin dulu kepada amir rombongan!”

Maka kamipun mendatangi abu musa al asy’ari (yang pada waktu itu dia memimpin sebagian dari pasukan tersebut), lalu kami melaporkan kepadanya tentang orang itu. Maka abu musa berkata kepada orang itu, “Mungkin kamu ingin kembali menemui keluargamu”. Orang itu menjawab, “Tidak”. Abu musa berkata, “Ualngi apa yang kamu katakan itu.” Dia menjawab, “Tidak”. Maka abu musa berkata, “Kalau begitu pergilah dan berjalanlah diatas jalan hidayah!”

Maka orang itupun pergi dan pada malam harinya dia kembali , lalu Abu musa bertanya kepadanya, “Mungkin kamu pergi menemui keluargamu”. Dia menjwab “Tidak”. Abu musa bertanya lagi, “Ulangi apa yang kamu katakana!” Dia menjawab, “Ya, memang benar saya pergi ke rumah.”. Abu musa berkata, “Kamu pergi ke rumah seperti berjalan diatas api. Selama kamu duduk disana maka seperti duduk diatas api. Dan kamu kembali setelah berjalan diatas api. Oleh karena itu sekarang perbaruilah amal kamu supaya menjadi kifarat atas dosamu itu.” (HR. Ibnu asakir dalam kitab kanzul ‘ummal jilid III halaman 169)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Rasulullah saw pergi untuk dakwah dengan berjalan kaki

Dari Abdullah bin ja’far rhuma, dia menceritakan. Ketika abu tholib telah wafat, maka rasulullah saw pergi berdakwah ke thoif dengan berjalan kaku untuk mengajak mereka kedalam islam. Tetapi mereka tidak mau menerima ajakan nabi saw. Maka beliau meninggalkan mereka dan pergi ke bawah sebatang pohon rindang lalu mengerjakan sholat 2 rakaat. Setelah sholat beliau berdoa:

“Wahai Tuhanku, Kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah tuhanku, Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka_mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gela dan atasNyalah teratur segala urusan dunia dan akherat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu. Kepada engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.” (HR. Thabrani, menurut al haitsami dalam kitabnya jilid VI halaman 35, didalam sanadnya ada seorang perawi yaitu ibnu ishaq, dia adalah mudallis tsiqot, tetapi para perawi lainnya adalah tsiqot)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Surat umar rhu kepada saad rhu yang memerintahkan padanya agar mendakwahi manusia kepada islam selama tiga hari sebelum peperangan berlangsung

Dari yazid bin abi hubaib berkata, “Umar bin khattab rhu pernah menulis surat kepada saad bin abi waqqas rhu yang isinya sebagai berikut:

Aku pernah mengatakan padamu dalam suratku yang lalu supaya engkau mengajak orang-orang untuk memeluk islam selama tiga hari sebelum engkau memerangi mereka. Barangsiapa mau menerima seruanmu (dan memeluk islam) sebelum peperangan berlangsung, maka dia termasuk salah seorang dari golongan kaum muslimin. Dia memperoleh hak yang sama seperti kaum muslimin lainnya dalam islam dan memperoleh bahian harta rampasan. Dan barangsiapa menerima seruanmu (masuk islam) setelah berlangsung perperangan atau setelah mereka mengalami kekalahan, maka mereka tidak berhak memperoleh bagian dari harta rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin, karena mereka telah mengumpulkan dan memiliki harta itu sebelum masuk islam. Ini adalah perintahku dan maksudku menulis surat kepadamu.” (HR. Abu Ubaid, demikian diseburkan dalam kitab al kanz jilid II halaman 297)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Saling bergabung ketika keluar di jalan Alloh

Abu tsa’labah al khusyani rhu menceritakan, “Apabila rasulullah saw singgah dan (berkemah) si suatu tempat (ketika dalam perjalanan), maka para shohabat berpencaran jauh (membuat kemah) di bukit bukit dan lembah-lembah. Atas hal ini rasulullah saw bersabda, seungguhnya berpencarnya kalian di bukit-bukit dan lembah-lembah ini hanyalah dari tipu daya syetan.” Setelah peristiwa itu, rasulullah saw tidak singgah (berkemah) di suatu tempat pun, melainkan para shohabat berkumpul (mengambil tempat yang berdekatan) satu sama lain (HR. abu dawud dan nasai dalam kitab at targib jlid V halaman 40)

Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya jilid IX halaman 152, katanya, “Setelah peristiwa itu, apabila para sahabat beristirahat maka mereka memilih tempat saling berdekatan satu sama lain, sehingga dikatakan bahwa seandainya sehelai kain (selimut) dibentangkan, niscaya kain itu menutup tubuh mereka semua.”

Muadz al juhaini rhu berkata, “Dalam suautu peperangan bersama rasulullah saw di suatu tempat kami beristirahat, mereka mencari tempat peristirahatan menyebar sehingga tempat tersebut bagi mereka menjadi sempit dan jalan pun tertutup. “Melihat hal itu rasuloullah saw mengumumkan bahwa, barangsiapa yang menjadikan sempit tempat beistirahat atau yang menutup jalan-jalan maka tidak ada jihad baginya, artinya tidak akan mendapatkan pahala jihad.” (Diriwayatkan juga oleh baihaqi dalam kitabnya jilid IX hal 152)

Sumber: Hayatush shohabah  jilid I Maulana yusuf rah

Khalid bin walid rhu memberikan kabar/cerita tentang dakwah yang telah dia lakukan

Surat khalid bin walid rhu kepada rasulullah saw

Bismillahirrahmanirrohim

Kepada Muhmmad Nabi dan rasulullah saw, dari khalid bin walid

Assalamualaika yaa rasulallah! Warahmatullahi wabarakatuh

Aku memuji engkau kepada Alloh SWT yang tiada tuhan selainNya. Selanjutnya….

Wahai rasulullah saw, engkau telah mengirim aku kepada bani harits bin kaab dan engkau telah memerintahkan bahwa apabila aku telah sampai ke tempat mereka supaya mengajak mereka untuk masuk islam selama tiga hari sebelum memerangi mereka. Jika mereka mau masuk islam maka aku terima keislaman mereka, lalu aku ajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan tentang islam, tentang alquran, dan sunnah-sunnah nabiNya. Namun jika mereka menolak, maka terpaksa aku harus memerangi mereka.

Dan sungguh aku telah datang kepada mereka, lalu aku ajak mereka kedalam islam selama tiga hari seperti yang telah diperintahkan oleh rasulullah saw. Aku juga telah mengutus beberapa orang untuk menyeru kepada mereka, “wahai bani harits, masuklah kalian ke dalam islam, niscaya kalian akan selamat! Maka mereka pun semuanya masuk islam dan tidak mengadakan perlawanan. Sekarang aku masih tinggal bersama mereka untuk menyampaikan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Alloh SWT dan apa-apa yang dilarangNya. Continue reading

Rasulullah saw mengirimkan jamaah untuk berdakwah

Nabi saw mengirim jamaah Abdurrahman bin auf rhu ke daumatul jandal untuk berdakwah

Dari ibnu umar rhuma dia menceritakan “Pada suatu hari rasululah saw memanggil Abdurrahman bin auf rhu, lalu beliau berkata “Bersiap siaplah! Aku akan mengutusmu bersama satu pasukan. Lalu perawi menyebutkan kisah selanjutnya yang didalamnya disebutkan bahwa ketika itu Abdurrahman bin auf rhu segera pergi sehingga dia dapar menjumpai kawan kawannya yang telah pergi terlebih dahulu. Lalu mereka berjalan bersama-sama sehingga sampai pada suatu tempat yang bernama Daumatul jandal. Ketika jamaah itu telah memasuki tempat yang dituju maka selama 3 (tiga ) hari mereka berusaha mengajak penduduk tersebut untuk masuk islam. Pada hari ketiga datanglah seorang lelaki bernama asbagh bin amar alkalbi dan langsung masuk islam, semula dia beragama nashrani dan dia adalah kepala kaum. Kemudian Abdurrahman bin auf menulis surat kepada rasulullah saw untuk memberitahukan tentang keislaman asbagh. Surat itu disampaikan oleh seorang dari juhainah bernama rafi’ bin mukits. Continue reading

Rasulullah saw memberikan nasihat-nasihat (sebagai bekal) sebelum memberangkatkan pasukan-pasukan dakwahnya

Dari abduraahman bin ‘aid rhu, dia berkata, “ Adalah rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka beliau memberi nasihat, “ Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Janganlah menyerang mereka sebelum kalian berdakwah kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka ! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka kehadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk islam) karena yang demikian itu lebih aku suka daripada kalian datang kepadaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka! (HR. Ibnu mandah dan Ibnu asakir dalam kitab al kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh ibnu syahin dan al baghawi seperti terdapat dalam kitab ishaabah jilid III halaman 153, juga tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195)

Sumber: Hayatush shohabah, maulana yusuf rah, jilid1