Archive for December, 2008|Monthly archive page

Taat kepada perintah amir ketika berdakwah di jalan Alloh

Abu malik al asy’ari rhu berkata, Rasulullah saw mengirimkan kami dalam sebuah pasukan, dan saad bin abi waqqas ditunjuk sebagai pemimpin kami, maka kamipun berangkat. Ketika kami berhenti di suatu tenopat untuk beristirahat, ada salah seorang seorang dari kami berdiri lalu menunggangi kendaraannya. Saya bertanya kepadanya, “Hendak pergi kemana Kamu?” Dia menjawab, saya akan pergi mencari rumput.” Saya katakan kepadanya, “Janganlah berbuat demikian sebelum kamu meminta ijin dulu kepada amir rombongan!”

Maka kamipun mendatangi abu musa al asy’ari (yang pada waktu itu dia memimpin sebagian dari pasukan tersebut), lalu kami melaporkan kepadanya tentang orang itu. Maka abu musa berkata kepada orang itu, “Mungkin kamu ingin kembali menemui keluargamu”. Orang itu menjawab, “Tidak”. Abu musa berkata, “Ualngi apa yang kamu katakan itu.” Dia menjawab, “Tidak”. Maka abu musa berkata, “Kalau begitu pergilah dan berjalanlah diatas jalan hidayah!”

Maka orang itupun pergi dan pada malam harinya dia kembali , lalu Abu musa bertanya kepadanya, “Mungkin kamu pergi menemui keluargamu”. Dia menjwab “Tidak”. Abu musa bertanya lagi, “Ulangi apa yang kamu katakana!” Dia menjawab, “Ya, memang benar saya pergi ke rumah.”. Abu musa berkata, “Kamu pergi ke rumah seperti berjalan diatas api. Selama kamu duduk disana maka seperti duduk diatas api. Dan kamu kembali setelah berjalan diatas api. Oleh karena itu sekarang perbaruilah amal kamu supaya menjadi kifarat atas dosamu itu.” (HR. Ibnu asakir dalam kitab kanzul ‘ummal jilid III halaman 169)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Advertisements

Rasulullah saw pergi untuk dakwah dengan berjalan kaki

Dari Abdullah bin ja’far rhuma, dia menceritakan. Ketika abu tholib telah wafat, maka rasulullah saw pergi berdakwah ke thoif dengan berjalan kaku untuk mengajak mereka kedalam islam. Tetapi mereka tidak mau menerima ajakan nabi saw. Maka beliau meninggalkan mereka dan pergi ke bawah sebatang pohon rindang lalu mengerjakan sholat 2 rakaat. Setelah sholat beliau berdoa:

“Wahai Tuhanku, Kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah tuhanku, Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka_mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gela dan atasNyalah teratur segala urusan dunia dan akherat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu. Kepada engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.” (HR. Thabrani, menurut al haitsami dalam kitabnya jilid VI halaman 35, didalam sanadnya ada seorang perawi yaitu ibnu ishaq, dia adalah mudallis tsiqot, tetapi para perawi lainnya adalah tsiqot)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Surat umar rhu kepada saad rhu yang memerintahkan padanya agar mendakwahi manusia kepada islam selama tiga hari sebelum peperangan berlangsung

Dari yazid bin abi hubaib berkata, “Umar bin khattab rhu pernah menulis surat kepada saad bin abi waqqas rhu yang isinya sebagai berikut:

Aku pernah mengatakan padamu dalam suratku yang lalu supaya engkau mengajak orang-orang untuk memeluk islam selama tiga hari sebelum engkau memerangi mereka. Barangsiapa mau menerima seruanmu (dan memeluk islam) sebelum peperangan berlangsung, maka dia termasuk salah seorang dari golongan kaum muslimin. Dia memperoleh hak yang sama seperti kaum muslimin lainnya dalam islam dan memperoleh bahian harta rampasan. Dan barangsiapa menerima seruanmu (masuk islam) setelah berlangsung perperangan atau setelah mereka mengalami kekalahan, maka mereka tidak berhak memperoleh bagian dari harta rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin, karena mereka telah mengumpulkan dan memiliki harta itu sebelum masuk islam. Ini adalah perintahku dan maksudku menulis surat kepadamu.” (HR. Abu Ubaid, demikian diseburkan dalam kitab al kanz jilid II halaman 297)

Sumber: Hayatush shohabah jilid I, maulana yusuf rah)

Saling bergabung ketika keluar di jalan Alloh

Abu tsa’labah al khusyani rhu menceritakan, “Apabila rasulullah saw singgah dan (berkemah) si suatu tempat (ketika dalam perjalanan), maka para shohabat berpencaran jauh (membuat kemah) di bukit bukit dan lembah-lembah. Atas hal ini rasulullah saw bersabda, seungguhnya berpencarnya kalian di bukit-bukit dan lembah-lembah ini hanyalah dari tipu daya syetan.” Setelah peristiwa itu, rasulullah saw tidak singgah (berkemah) di suatu tempat pun, melainkan para shohabat berkumpul (mengambil tempat yang berdekatan) satu sama lain (HR. abu dawud dan nasai dalam kitab at targib jlid V halaman 40)

Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya jilid IX halaman 152, katanya, “Setelah peristiwa itu, apabila para sahabat beristirahat maka mereka memilih tempat saling berdekatan satu sama lain, sehingga dikatakan bahwa seandainya sehelai kain (selimut) dibentangkan, niscaya kain itu menutup tubuh mereka semua.”

Muadz al juhaini rhu berkata, “Dalam suautu peperangan bersama rasulullah saw di suatu tempat kami beristirahat, mereka mencari tempat peristirahatan menyebar sehingga tempat tersebut bagi mereka menjadi sempit dan jalan pun tertutup. “Melihat hal itu rasuloullah saw mengumumkan bahwa, barangsiapa yang menjadikan sempit tempat beistirahat atau yang menutup jalan-jalan maka tidak ada jihad baginya, artinya tidak akan mendapatkan pahala jihad.” (Diriwayatkan juga oleh baihaqi dalam kitabnya jilid IX hal 152)

Sumber: Hayatush shohabah  jilid I Maulana yusuf rah

Perbedaan Mukjizat, Karomah, Ma’unah, Istidroj, serta Ihanah

Mukjizat ialah perkara yang nampak yang bertentangan dengan kebiasaan (yaitu hal yang luar biasa yang terhadi melalui) tangan nabi atau rasul setelah diutusnya (yang dilakukan) pada saat berdakwah (menyebarkan) misi kenabian dan kerasulan, seperti menghidupkan orang mati, menghilangkan gunung dan memancarkan air dari sela-sela jari jemari.

Adapun jikalau perkara (sesuatu yang luar biasa itu) tampak pada tangan selain nabi dan rasul, jikalau ia seorang wali (kekasih Alloh), maka sesuatu yang luar biasa itu sebut karomah (keramat wali).

Seperti keistimewaan yang terjadi pada siti maryam. Beliau berada di dalam pemeliharaan nabi zakariya as, dan tidak seorang pun selain nabi zakaria dapat masuk ke tempat siti maryam berada. Nabi zakaria, jika keluar dari sisi siti maryam beliau pasti menutup/mengunci tujuh pintu untuk menjaganya. Ketika nabi zakaria masuk ke mihrob siti maryam berada, beliau mendapati buah-buah musim dingin pada saat musim panas, dan mendapati buah-buahan musim panas pada saat musim dingin, maka beliau terkagum-kagum. Karena itu, lalu beliau bertanya kepada siti maryam mengenai jalan/cara sampainya rejeki tersebut kepadanya, bukan pada musimnya, padahal pintu-pintu tersebut terkunci dan penjaga selalu berkeliling di seputar kamar (ruangan beribadah) nya.

Siti maryam menjawab pertanyaan nabi zakaria, bahwasanya rezeki tersebut dari Alloh dan sesungguhnya Alloh akan memberikan rezeki kepada orang yang dihendakiNya, dengan tanpa perhitungan, sebagai bentuk pemberian Fadhol (kemurahan), dengan tanpa mengurang-ngurangi (Qs ali imron:37)

Dan seperti keistimewaan yang terjadi pada Fatimah ru, ketika suatu ketika beliau menghadiahkan kepada ayahhandanya nabi saw dua potong roti dan sepotong daging yang diletakkan di dalam piring/mangkok yang ditutup. Lalu nabi saw mengirimkan kembali pembawa piring mangkok itu dan sesuatu yang bersamanya yaitu piring dan mangkok tersebut ke rumah fatimah. Ketika nabi saw duduk dan berdiam diri pada tempat duduknya, di rumah fatimah, maka beliau bersabda: Bawalah kemari piring tersebut wahai putriku.” Lalu fatimah membuka piring tersebut tiba-tiba saja piring tersebut dipenuhi roti dan daging. Kemudian nabi saw bertanya kepada fatimah, “bagaimana kamu mendapatkan semua ini?”

Siti fatimah menjawab:” Semua ini berasal dari Alloh. Sungguh Alloh akan memberi rezeki kepada orang yang dikehendakiNya dengan tanpa perhitungan.”

Kemudian Nabi saw bersabda, “Segala puji bagi Alloh swt, yang telah menjadikanmu seeorang perempuan yang menyerupai pemimpin kaum perempuan bani isroil”

Kemudian nabi saw mengumpulkan ali rhu, hasan rhu, dan husain rhu serta seluruh penghuni rumah ali, untuk makan bersama makanan yang ada didalam piring itu, Lalu mereka semua makan hingga kenyang, namun makanan tersebut masih tetap tersisa. Maka fatimah mengirimkannya kepada para tetangganya.

Jikalau kekampuan luar biasa itu terjadi dari orang-orang awam diantara orang-orang islam dalam bentuk sebagai penyelamatan dari segala bencana dan dari segala hal yang tidak disukainya maka kemapuan luar baisa itu disebut Ma’unah (pertolongan Alloh)

Jika kempauan luar biasa itu terjadi pada seorang fasik, maka jika hal itu terjadi sesuai dengan tujuannya maka kemampuan luar biasa itu disebut Istidroj (tipu daya Alloh kepada orang tersebut dan untuk menguji keimanan orang-orang islam yang menghadapinya)

Dan jika tidak sesuai dengan tujuannya maka hal itu disebut Ihanah (Penghinaan Alloh kepada orang tersebut) seperti yang pernah terjadi pada Musailimah al kadzab (kalimat musailimah dengan dibaca kasroh huruf lamnya/orang yang mengaku sebagai nabi)

Sesungguhnya musailimah berdoa untuk orang yang buta satu matanya, agar matanya yang buta itu menjadi sembuh bisa melihat, maka matanya yang sehat menjadi buta pula.

Dan musailimah meludah ke dalam sumur, agar supaya bertambah manis rasa airnya, maka iar sumur tersebut berubah menjadi air asin yang sangat asin hingga terasa pahit.

Dan musalimah mengusap kepala anak yatim, maka menjadi rontoklah rambut kepala anak yatim tersebut.

Dan semua kejadian ini adalah bukti yang memperkuat kebohongan pegakuan menjadi nabi, rasul. Semua hikayat tersebut dituturkan oleh syeikh al laqoni dalam kitab umdatul murid..

Sumber: Bahjatul wasail bi syarhi masail, Syaikh Muhammad nawawi albantani rah

Khalid bin walid rhu memberikan kabar/cerita tentang dakwah yang telah dia lakukan

Surat khalid bin walid rhu kepada rasulullah saw

Bismillahirrahmanirrohim

Kepada Muhmmad Nabi dan rasulullah saw, dari khalid bin walid

Assalamualaika yaa rasulallah! Warahmatullahi wabarakatuh

Aku memuji engkau kepada Alloh SWT yang tiada tuhan selainNya. Selanjutnya….

Wahai rasulullah saw, engkau telah mengirim aku kepada bani harits bin kaab dan engkau telah memerintahkan bahwa apabila aku telah sampai ke tempat mereka supaya mengajak mereka untuk masuk islam selama tiga hari sebelum memerangi mereka. Jika mereka mau masuk islam maka aku terima keislaman mereka, lalu aku ajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan tentang islam, tentang alquran, dan sunnah-sunnah nabiNya. Namun jika mereka menolak, maka terpaksa aku harus memerangi mereka.

Dan sungguh aku telah datang kepada mereka, lalu aku ajak mereka kedalam islam selama tiga hari seperti yang telah diperintahkan oleh rasulullah saw. Aku juga telah mengutus beberapa orang untuk menyeru kepada mereka, “wahai bani harits, masuklah kalian ke dalam islam, niscaya kalian akan selamat! Maka mereka pun semuanya masuk islam dan tidak mengadakan perlawanan. Sekarang aku masih tinggal bersama mereka untuk menyampaikan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Alloh SWT dan apa-apa yang dilarangNya. Continue reading

Rasulullah saw mengirimkan jamaah untuk berdakwah

Nabi saw mengirim jamaah Abdurrahman bin auf rhu ke daumatul jandal untuk berdakwah

Dari ibnu umar rhuma dia menceritakan “Pada suatu hari rasululah saw memanggil Abdurrahman bin auf rhu, lalu beliau berkata “Bersiap siaplah! Aku akan mengutusmu bersama satu pasukan. Lalu perawi menyebutkan kisah selanjutnya yang didalamnya disebutkan bahwa ketika itu Abdurrahman bin auf rhu segera pergi sehingga dia dapar menjumpai kawan kawannya yang telah pergi terlebih dahulu. Lalu mereka berjalan bersama-sama sehingga sampai pada suatu tempat yang bernama Daumatul jandal. Ketika jamaah itu telah memasuki tempat yang dituju maka selama 3 (tiga ) hari mereka berusaha mengajak penduduk tersebut untuk masuk islam. Pada hari ketiga datanglah seorang lelaki bernama asbagh bin amar alkalbi dan langsung masuk islam, semula dia beragama nashrani dan dia adalah kepala kaum. Kemudian Abdurrahman bin auf menulis surat kepada rasulullah saw untuk memberitahukan tentang keislaman asbagh. Surat itu disampaikan oleh seorang dari juhainah bernama rafi’ bin mukits. Continue reading

Rasulullah saw memberikan nasihat-nasihat (sebagai bekal) sebelum memberangkatkan pasukan-pasukan dakwahnya

Dari abduraahman bin ‘aid rhu, dia berkata, “ Adalah rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka beliau memberi nasihat, “ Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Janganlah menyerang mereka sebelum kalian berdakwah kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka ! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka kehadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk islam) karena yang demikian itu lebih aku suka daripada kalian datang kepadaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka! (HR. Ibnu mandah dan Ibnu asakir dalam kitab al kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh ibnu syahin dan al baghawi seperti terdapat dalam kitab ishaabah jilid III halaman 153, juga tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195)

Sumber: Hayatush shohabah, maulana yusuf rah, jilid1

3 (tiga) hal yang dicintai di dunia ini

Diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tiga hal yang dicintai olehku dari perkara duniawi yaitu minyak wangi , wanita dan ketenangan jiwaku (ketika bermunajat) dalam sholat”.

Dan abu bakar ash shiddiq rhu berkata, “Dan tiga hal yang dicintai olehku dari perkara dunia yaitu duduk dihadapan anda (Nabi SAW), membaca sholawat kepada anda, dan menginfakkan hartaku kepada anda.”

Dan bahwasanya Abu bakar rhu telah menginfakkan hartanya kepada Nabi sebanyak 40.000 dinar

Dan umar rhu berkata: “Dan tiga hal yang dicintai olehku dari perkara dunia yaitu perintah untuk kebaikan (Al ma’ruf), melarang dari kemungkaran, dan menegakkan ketentuan-ketentuan (syariat)”.

Dan dari sahabat usman rhu berkata, “Dan tiga hal yang dicintai olehku dari perkara dunia yaitu memberi makan, menebarkan salam (perdamaian), dan sholat di waktu malam sementara manusia tertidur.”

Dan sahabat Ali rhu berkata, “Dan tiga hal yang dicintai olehku dari perkara dunia yaitu memukulkan pedang, puasa di musim panas, dan menjamu tamu”.

Continue reading

Bertanya 5 perkara kepada 700 orang alim

Syeikh syuqaiq bin ibrohim rah berkata: “aku telah bertanya kepada 700 orang alim mengenai 5 perkara, mereka semuanya menjawab dengan jawaban yang sama”.

  1. Aku bertanya: “Siapa orang yang berakal”? Mereka menjawab: “Orang yang tidak pernah mencintai dunia.”
  2. Lalu aku bertanya, “Siapa orang yang cerdas? Mereka menjawab:”Orang yang tidak mau direpotkan dunia.”
  3. Lalu aku bertanya: “Siapa orang yang kaya”? Mereka menjawab: “Orang yang ridho dengan sesuatu yang telah ditentukan Alloh untuknya.”
  4. Lalu aku bertanya: “Siapakah orang yang yang fakir”? Mereka menjawab: ”Orang yang hatinya selalu beserta dengan tuntutan dunia”.
  5. Lalu aku bertanya: “Siapakah orang yang bakhil “? Mereka menjawab: “Orang yang selalu menolak hak Alloh Ta’ala dari harta miliknya.”

(Sumber: Kitab bahjatul wasail bi syarhi masail, syakh Muhammad nawawi albantani rah)