Archive for October, 2009|Monthly archive page

Memanfaatkan Usaha dakwah dan tabligh untuk Memerangi Teroris (Sebuah Pelajaran dari Qatar)

05 Maret 2005 sebuah bom meledak di depan British International School di area City Center Doha Qatar. Seperti biasa, polisi bergerak cepat mengidentifikasi pelaku. Hasilnya, siapa pelaku dan gerombolannya akhirnya tertangkap.

Tentu ada yang berbeda dalam penanganan teroris di Qatar dan Indonesia. Kalau Polisi Qatar mengekor Polisi Indonesia dalam mengidentifikasi seperti apa “teroris”, tentu akan sangat kesulitan. Separuh penduduk Qatar, sehari-hari selalu bersorban dan tentunya berjanggut panjang. Para Wanitanya juga banyak yang bercadar. Lha apa semua harus dicurigai seperti statemen Pangdam Diponegoro.

Polisi Indonesia bukanlah semacam keledai yang selalu jatuh dilubang yang sama. Setiap ada kejadian bom, steoreotip yang kemudian muncul adalah, bahwa teroris itu bersorban, berjanggut dan berjubah. Stereotip semacam itu saya yakin bukan dari aparat kepolisian, tapi lebih dari media terutama televisi.

Saya yakin, Pangdam Diponegoro pasti tidak hadir dan tidak melihat siaran berita televise ketika Kapolri Bambang Hendarso Danuri menunjukkan foto-foto para pelaku teror. Adakah diantara foto-foto yang dipaparkan Kapolri menunjukkan seorang yang bersurban, berjanggut bahkan berjubah. Ketika Imam Samudra, Ali Muklas dan Amrozi ditangkap dulu, adakah diantara mereka yang bersurban dan berjubah?.

Bukankah ketika ditangkap Imam Samudra sangat macho dengan kaos CONVERSE. Wah seharusnya orang berkaos CONVERSE-lah yang kudu diwaspadai. Iya to?

Kembali ke Qatar

Pasca bom di City Center, Qatar sangat cerdik dalam memerangi teroris. Dan hasilnya, adalah tidak terulangnya lagi bom-bom meledak di Qatar. Padahal Qatar adalah target utama para militan di Bumi Arab, karena di Qatar lah pusat komando dan pangkalan militer Amerika terbesar di timur tengah.

Continue reading

Advertisements

Pakistan, Pusat Studi Hadits

Mendengar nama Pakistan, mungkin langsung tergambar dalam pikiran kita satu negara yang dipenuhi pasukan perang, pertikaian, kekerasan, kemiskinan, dan imej-imej mengerikan lainnya. Atau mungkin juga sebaliknya. Tergambar orang-orang berkaliber internasional semacam Muhammad Iqbal, DR. Fazlur Rahman, DR. Ziauddin Sardar, Maududi, ataupun Prof. Abdus Salam. Dalam edisi ini, A.Harun Al Rosyid salah seorang anggota redaksi Kakilangit menceritakan pengalamannya belajar di Pakistan.

Menghirup Udara Pakistan
Setelah mendapatkan berbagai masukan tentang pengkajian hadits di beberapa tempat, akhirnya saya putuskan untuk mendalami hadits di India. Sebab, sebagaimana kata seorang ustadz dari Malang, alumni Sayyid Muhammad Makkah, untuk saat ini India-lah tempat pengkajian hadits paling pesat, tepatnya di Deoband. Bahkan Sayyid Muhammad pun dulu pernah belajar di sana. Hanya saja, mendapatkan visa India bukanlah hal yang mudah. Maka beliau sarankan untuk pergi ke Pakistan terlebih dahulu, sebab perolehan visanya relatif lebih mudah daripada India. Dari sana, mungkin bisa minta bantuan ulama yang pernah belajar di India. Beliau juga memberikan informasi bahwa di Pakistan ada seorang ulama besar alumni Deoband bernama Syaikh Binnuri. Hanya sayangnya, tidak diketahui di Pakistan bagian mana beliau tinggal. Dari petunjuk singkat ini, saya berusaha mencari info tentang orang yang bisa mencarikan jalur mudah ke Pakistan. Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya saya bertemu dengan Rusydan, seorang pelajar asal Magetan yang sudah beberapa tahun belajar di Pakistan. Saat itu, ia pulang liburan Ramadlan. Maka, pada bulan Pebruari 1997, kami berdua terbang menuju Karachi Pakistan.

Setelah enam jam di atas pesawat, kami pun menginjakkan kaki di Qa’id A’zam International Air Port. Saat itu sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Dinginnya udara sisa-sisa musim dingin masih terasa menusuk tulang sumsum. Pakistan memang termasuk negara yang memiliki empat musim. Pada musim dingin, di Pakistan utara (propinsi Sarhad) biasa diselimuti salju tebal. Sedangkan bagian selatan (propinsi Sindh dan sebagian Balochistan) adalah wilayah yang penuh dengan gurun pasir tandus dan gunung-gunung batu.Lahan pertanian dan perkebunan kebanyakan hanya didapati di Punjab dan sebagian Balochistan. Namun gandum, padi dan buah-buahan selalu melimpah. Beras pernah diekspor ke Indonesia. Sedangkan buah-buahan secara mencolok muncul bergiliran seiring dengan pergantian musim. Anggur hijau, pir, kurma dan tin pun menjadi makanan biasa di sana.

Sopir Hafal Al Quran
Temanku memangil taksi untuk mengantarkan kami ke sebuah jami’ah di daerah New Town. Ada beberapa pelajar Indonesia di sana. Selama perjalanan, Rusydan ngobrol dengan sopir dengan bahasa Urdu yang satu kata pun tidak aku mengerti. “Eh! Sopirnya ternyata hafizh Qur-an,” kata temanku. Ah, mana mungkin, pikirku. “Kamu nggak percaya, ya? ” tanyanya memahami ketidakyakinanku. “Di Pakistan sini, orang hafal Qur-an bukan sesuatu yang aneh. Sopir hafizh, dokter hafizh, insinyur hafzh, pedagang hafizh, bahkan pemain olah raga pun ada yang hafizh. Nanti kalau kamu sudah tingal di sini, kamu akan tahu semua,” katanya meyakinkan.

Continue reading